18 February 2007

Madrasah Cinta Ibu

Oleh: Bayu Gawtama
05/12/2005 10:09 WIB

Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah? Sudah pasti
jawabannya adalah kehamilan. Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh,
seberat apa pun langkah yang mesti diayun, seberapa lama pun waktu yang kan
dijalani, tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang
bidan; "positif".


Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih dalam
kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak berbeda baginya, karena
ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil di perutnya. Seringkali ia
bertanya; menangiskah ia? Tertawakah ia? Sedih atau bahagiakah ia di dalam
sana? Bahkan ketika waktunya tiba, tak ada yang mampu menandingi cinta yang
pernah diberikannya, ketika mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi
penerusnya itu bisa terlahir ke dunia. Rasa sakit pun sirna sekejap mendengar
tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang terus
bercucuran. Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar.
Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak-anak. Tak
satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan sekerja,
teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak-anak. Si kecil baru saja
berucap "Ma…" segera ia mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada
di daftar telepon. Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris, antara
haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka. Hari pertama sekolah
adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah awal kesuksesannya.
Meskipun di saat yang sama, pikirannya terus menerawang dan bibirnya tak lepas
berdoa, berharap sang suami tak terhenti rezekinya. Agar langkah kaki kecil itu
pun tak terhenti di tengah jalan.
"Demi anak", "Untuk anak", menjadi alasan utama ketika ia berada di pasar
berbelanja keperluan si kecil. Saat ia berada di pesta seorang kerabat atau
keluarga dan membungkus beberapa potong makanan dalam tissue. Ia selalu
mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, setiap
kali hendak berbelanja baju untuknya. Tak jarang, ia urung membeli baju
untuknya dan berganti mengambil baju untuk anak. Padahal, baru kemarin sore ia
membeli baju si kecil. Meski pun, terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi atas
satu alasan, demi anak.
Di saat pusing pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas, periksalah
catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Uang sekolah anak, 2. Beli susu
anak, … nomor urut selanjutnya baru kebutuhan yang lain. Tapi jelas di situ,
kebutuhan anak senantiasa menjadi prioritasnya. Bahkan, tak ada beras di rumah
pun tak mengapa, asalkan susu si kecil tetap terbeli. Takkan dibiarkan si kecil
menangis, apa pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar.
Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak pernah
dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan menjadi babby sitter
yang paling setia. Sesekali ia menjelma menjadi puteri salju yang bernyanyi
merdu menunggu suntingan sang pangeran. Keesokannya ia rela menjadi kuda yang
meringkik, berlari mengejar dan menghalau musuh agar tak mengganggu. Atau
ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat
mengelilingi kebun, mencari wortel untuk makan sehari-hari. Hanya tawa dan
jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen
didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus menyamarkan
suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura si nenek sihir
terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata barang sedetik. Namun, si
kecil belum juga terpejam dan memintanya menceritakan dongeng ke sekian. Dalam
kantuknya, ia terus pun mendongeng.
Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan anak-anak
yang akan berangkat ke kampus. Tak satu pun yang paling ditunggu kepulangannya
selain suami dan anak-anak tercinta. Serta merta kalimat, "Sudah makan belum?"
tak lupa terlontar saat baru saja memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil
yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya itu sudah menjadi orang dewasa yang
bisa membeli makan siangnya sendiri di kampus.
Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan terpenting
dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya, siapa yang
paling menangis? Siapa yang lebih dulu menitikkan air mata? Lihatlah sudut
matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap. Langkah beratnya ikhlas
mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan. ia menangis melihat anaknya
tersenyum bahagia dibalut gaun pengantin. Di saat itu, ia pun sadar buah hati
yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan cintanya itu tak lagi hanya
miliknya. Ada satu hati lagi yang tertambat, yang dalam harapnya ia berlirih,
"Masihkah kau anakku?"
Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang
usianya. Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir. Hanya satu
pinta yang sering terucap dari bibirnya, "Bila ibu meninggal, ibu ingin
anak-anak ibu yang memandikan. Ibu ingin dimandikan sambil dipangku kalian".
Tak hanya itu, imam shalat jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya.
"Agar tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shalih sejak kecil,"
ujarnya.
Duh ibu, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya
tak ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil ibu telah mengajarkan arti cinta
sebenarnya. Ibulah madrasah cinta saya, sekolah yang hanya punya satu mata
pelajaran: cinta. Sekolah yang hanya ada satu guru: pecinta. Sekolah yang semua
murid-muridnya diberi satu nama: yang dicinta.**


baca selengkapnya...
Sekar Arum Sari

0 comments:

Post a Comment