Rembulan remang menggantung
menatap tanah merah
memanggil mentari.
Pasar, komunitas yang terdiri dari berbagai macam lapisan. Datang atas nama kebutuhan dan untuk kepentingan sendiri. Setiap tata laku berpijak diatas cost and benefit, tak lebih. Berkisar antara prosentase memberi-menerima perbincangan terjadi. Kawan adalah musuh yang belum ditaklukkan.
"Dekati dia yang kuat untuk berlindung. Dan jika suatu saat kamu menjadi kuat, maka hancurkanlah ia", begitu kira-kira kapitalisme bersabda. Tata nilai mengalami pergeseran, dari saling membantu ke arah egoisme:perut. Sebuah fenomen kebersamaan semu.
Ketika pembeli mendapat barang dengan harga yang relatif murah -karena kelihaian menawar mungkin- ketika itu ia merasa untung. Namun pada saat yang sama si penjual merasa rugi atau dirugikan. Lantas siapakah yang sebenarnya untung ?
Hari-hari ini semakin banyak pula istilah-istilah yang membingungkan. Sekarang kita punya aneka pengertian tentang baik, buruk, keterbukaan, kesetiaan. semangat berkorban sudah habis tergadai demi mencicil pembangunan yang dianggap sebagai kemajuan. Peta stratifikasi sosial mugkin tak ubah seperti kondisi kekejaman purba: kuat menindas lemah. Sebuah ketidakadilan sekaligus motivasi dan seleksi untuk menjadi kuat lantas menghantam yang lain. Dominasi itu perlu!.
Persis perjalanan sejarah manusia yang sembab dan berdarah.
Barangkali tak usah terlalu mempertegas tentang etika. Karena visual adab tak jauh beda dengan rabaan beberapa orang buta tentang gajah: beraneka dan nisbi. Saling menasehati adalah sok pintar dan bijak. Maka yang ada hanya diam dan dengarkan. Niscaya siap ‘tuk tabah jika standar adalah akhlak yang bermuara hati. Seperti kerasnya nada cakap antara kumsyari dengan seorang ibu dengan setumpuk barang di sebuah angkutan yang sesak.
Saya pernah 'kagum' pada seseorang atau tepatnya sebuah kelompok. Mereka yang begitu fasih mengatasnamakan diri sebagai penarik lokomotif Islam progresif - mungkin juga bukan, karena bagi saya mereka tak ubah seperti tukang jahit kain-kain kecil pemikiran orang dulu yang ditambal sulam menjadi kain yang lebih besar - atas nama dialektika teks dengan konteks menjadikan standar kepantasan umum sebagai tolok ukur tata kesopanan dalam berpakaian. Bukan karena mereka sejatinya bibir saya cemberut, namun rupanya kesimpulannya yang mulai mengusik. Standar umum selalu bergerak dan berubah seiring perubahan cara pandang manusia terhadap alam. Tidak menutup kemungkinan bahwa bikini akan menjadi busana yang dianggap biasa atau bahkan sopan kelak. Sebagaimana ada kemungkinan kecil pula bahwa model busana tertutup akan trendy. Tergantung siapa yang yang menguasai zaman dan sistem informasi.
Bahwa hari-hari ini kita semakin dipaksa untuk menyukai atau tidak menyukai sesuatu oleh sebagian orang. Bentuk dan warna yang marak diminati konsumen adalah hasil kerja para ahli dari sebuah lembaga tertentu. Dan kita dipaksa untuk meminatinya. Bagaimana tidak, yang dipromokan dan terpampang di etalase itulah yang menjadi pilihan. Serupa warna perak yang tiba-tiba kita anggap bagus dan amat meyakinkan penampilan di saat-saat milenium ketiga bermula.
Bahkan aneka peristiwa dunia setelah dipilah pilih baru diberikan kepada kita untuk konsumsi. Berita tak ubah seperti daftar menu yang ditentukan oleh produser dan disajikan oleh para redaktur kepada kita. Mereka membentuk dunia kita. Sehingga kita memandang alam semesta dengan visual yang mereka rencanakan dan sajikan.
Hasrat murni kita terbajak. Mungkin bukan sekedar hasrat. Tapi saya kurang yakin, apakah bisa kita mengistilahkannya dengan prinsip. Entah....
Sekali saya melihat beberapa orang yang kelihatan akrab masuk ke sebuah rumah makan. Tidak terlalu mewah restoran itu. Sea food rupa-rupanya menu utama. Mengelilingi meja persegi panjang mereka duduk. Beberapa lama mereka menunggu setelah mencoret masakan yang dipesan di list menu. Tahu apa yang terjadi? Ternyata mereka yang kelihatan akrab itu, rupanya asik dengan layar ponsel masing-masing. Mengerutkan dahi, senyum, tawa, sedikit serius. Bukan dengan kawan disamping, namun dengan monitor handpone masing-masing. Lihat, benda mungil itu telah mencegah mereka untuk saling bertutur sapa laiknya seorang sahabat. Begitu mini, entah bagaimana dengan 'sesuatu' yang lebih besar. Keinginan atau kelas umpamanya.
Tentu pernah ada masanya gambaran di atas kita saksikan. Di sekitar kita yang dekat. Toh hidup sarat dengan tarik ulur kepentingan. Mungkin dikubur saja cinta pada obsesi-obsesi keadaan yang lebih baik serta impian-impian kreatif itu. Harapan niscaya ada. Tapi bisakah dibumikan, itu kiranya yang menjadi soal. Adapun keakraban dan persaudaraan, mari dicari. Sehingga kita tak lagi merasa aneh dengan budaya nasehat-menasehati.
Oleh. La Ortav
baca selengkapnya...
29 January 2007
27 January 2007
Marah dan Sayang
Sent By. Triple-S
Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya;
"Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"
Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab;
"Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."
"Tapi..." sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"
Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata; "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."
Sang guru masih melanjutkan; "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?" Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban. "Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."
Sang guru masih melanjutkan; "Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda.
baca selengkapnya...
Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya;
"Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"
Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab;
"Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."
"Tapi..." sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"
Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata; "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."
Sang guru masih melanjutkan; "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?" Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban. "Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."
Sang guru masih melanjutkan; "Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda.
baca selengkapnya...
23 January 2007
Bahasa Batin II
Ini adalah artikel kelanjutan dari Bahasa Batin I yang telah disampaikan terdahulu. Jika anda belum membacanya, silahkan klik link berikut ini ==> Bahasa batin I
Bahasa Batin...adalah Bahasa Paling Murni di Dunia ini.
Cinta, kekaguman, kepasrahan, keikhlasan, kerinduan dan seribu satu macam lainnya adalah sesuatu yang abstrak. Ia tidak bisa dilihat. Ia tidak bisa ditakar. Karena volumenya demikian besar, ia tidak bisa ditampung oleh wadah yang terbuat dari gerabah apapun. Cinta, kekaguman, kepasrahan, keikhlsan, kerinduan, merupakan bahasa kalbu yang letak geografisnya entah dibelahan tubuh bagian mana. Cinta, kekaguman, kepasrahan, keikhlasan, kerinduan, merupakan bahasa murni yang mengisyaratkan selutuh sengatan rasa yang berdomisili di diri kita. Bahasa batin tersebut melibatkan seluruh emosi, angan-angan, daya fikir --dan entah apalagi. Sehingga --wajar saja--, ketika bahasa batin yang sakral berusaha diturunkan derajatnya melalui bahasa lisan, tlisan, dan gerak, maka makna yang ingin disampaikan menjadi kehilangan kapasitasnya.
Sampai di sini, kita bisa membuat suatu perumpamaan. Ibarat sebuah sungai, bahasa batin merupakan behasa murni sebuah mata air pegunungan. Sedangkan, bahasa lisan, bahasa teks, dan bahasa gerak merupakan bahasa -- yang meski dikeluarkan dari mata air yang sama -- sudah hampir berada di muaranya. Kita sudah mengetahui bahwa perbedaan air yang ada di hulu dan muara akan mengakibatkan perbedaan tingkat kesucian. Air yang berada di hulu pastilah memiliki kejernihan. Sedangkan air yang sedang dalam perjalanan menuju muara pasti tercampur kotoran yang menyebabkan tidak higienis lagi.
Dari perumpamaan perjalanan air, kita dapat mengambil pelajaran, bahwa ketika bahasa batin menglair senuju muara, ia akan tercampur oleh ketidaksucian yang dipengaruhi oleh ketidakmampuan mengutarakan karena ter-asah mengolah bahasa tubuh dan emosi ataupun kesempitan perbendaharaan kata yang dimiliki sebuah bahasa bangsa. Inilah ketidaksucian yang dalam titik ekstrim --tragisnya--, dapat menyebabkan bahasa yang seharusnya menyehatkan jiwa, menjadi sesuatu yang menyakitkan, bagi si penerima.
Tapi, apa daya ? Untuk mewakilkan bahasa batin, manusia mutlak memerlukan perantara (tekstual, lisan, dan bahasa tubuh). Tanpanya, bahasa batin seseorang tidak mungkin dipahami oleh orang lain.
Baca selengkapnya...
Bahasa Batin...adalah Bahasa Paling Murni di Dunia ini.
Cinta, kekaguman, kepasrahan, keikhlasan, kerinduan dan seribu satu macam lainnya adalah sesuatu yang abstrak. Ia tidak bisa dilihat. Ia tidak bisa ditakar. Karena volumenya demikian besar, ia tidak bisa ditampung oleh wadah yang terbuat dari gerabah apapun. Cinta, kekaguman, kepasrahan, keikhlsan, kerinduan, merupakan bahasa kalbu yang letak geografisnya entah dibelahan tubuh bagian mana. Cinta, kekaguman, kepasrahan, keikhlasan, kerinduan, merupakan bahasa murni yang mengisyaratkan selutuh sengatan rasa yang berdomisili di diri kita. Bahasa batin tersebut melibatkan seluruh emosi, angan-angan, daya fikir --dan entah apalagi. Sehingga --wajar saja--, ketika bahasa batin yang sakral berusaha diturunkan derajatnya melalui bahasa lisan, tlisan, dan gerak, maka makna yang ingin disampaikan menjadi kehilangan kapasitasnya.
Sampai di sini, kita bisa membuat suatu perumpamaan. Ibarat sebuah sungai, bahasa batin merupakan behasa murni sebuah mata air pegunungan. Sedangkan, bahasa lisan, bahasa teks, dan bahasa gerak merupakan bahasa -- yang meski dikeluarkan dari mata air yang sama -- sudah hampir berada di muaranya. Kita sudah mengetahui bahwa perbedaan air yang ada di hulu dan muara akan mengakibatkan perbedaan tingkat kesucian. Air yang berada di hulu pastilah memiliki kejernihan. Sedangkan air yang sedang dalam perjalanan menuju muara pasti tercampur kotoran yang menyebabkan tidak higienis lagi.
Dari perumpamaan perjalanan air, kita dapat mengambil pelajaran, bahwa ketika bahasa batin menglair senuju muara, ia akan tercampur oleh ketidaksucian yang dipengaruhi oleh ketidakmampuan mengutarakan karena ter-asah mengolah bahasa tubuh dan emosi ataupun kesempitan perbendaharaan kata yang dimiliki sebuah bahasa bangsa. Inilah ketidaksucian yang dalam titik ekstrim --tragisnya--, dapat menyebabkan bahasa yang seharusnya menyehatkan jiwa, menjadi sesuatu yang menyakitkan, bagi si penerima.
Tapi, apa daya ? Untuk mewakilkan bahasa batin, manusia mutlak memerlukan perantara (tekstual, lisan, dan bahasa tubuh). Tanpanya, bahasa batin seseorang tidak mungkin dipahami oleh orang lain.
Baca selengkapnya...
Aduu..kakak, judulnya apa nehhhhh???
ku ingin kau pintal buih buih
menjadi tali mengikatku
ku ingin kau anyam gelombang gelombang
menjadi hamparan
ranjang tidurku
ku ingin kau tenun awan-gemawan
menjadi selendang
menudungi rambutku
aku ingin kau jahit bayu gunung
menjadi baju
pakaian malamku
aku ingin kau petik bintang timur
menjadi kerongsang
menyinari dadaku
ku ingin kau jolok bulan gerhana
menjadi lampu
menyuluh rinduku
aku ingi kau rebahkan mentari
menjadi laut malam kita
menghirup manis cinta kita
kekasih , hitunglah mimpi
yang membunuh realiti
dengan syurga ilusi..
By. HMMMM______BLANK
menjadi tali mengikatku
ku ingin kau anyam gelombang gelombang
menjadi hamparan
ranjang tidurku
ku ingin kau tenun awan-gemawan
menjadi selendang
menudungi rambutku
aku ingin kau jahit bayu gunung
menjadi baju
pakaian malamku
aku ingin kau petik bintang timur
menjadi kerongsang
menyinari dadaku
ku ingin kau jolok bulan gerhana
menjadi lampu
menyuluh rinduku
aku ingi kau rebahkan mentari
menjadi laut malam kita
menghirup manis cinta kita
kekasih , hitunglah mimpi
yang membunuh realiti
dengan syurga ilusi..
By. HMMMM______BLANK
21 January 2007
Kau kukenang...
Duhai
Kutulis cintaku padamu
kala kalut selimuti sukmaku
kubeberkan hatiku
arwah kata dalam gebu
kutulis ini padamu hanya
tidak untuknya, atau sesiapa
kala hujan menghunjam semesta
dalam ruang penuh jelaga
kasih, hanya padamu kuucap
meraung jiwaku, meratap
merindu, mengucap, mengecap
kurindumu seperti ini saat senyap
dua merpati bercumbu dalam renyai
di atas atap rumahku, selimuti
betina dalam sayap kehangatan
decakku, cinta butuh pengorbanan
ini kutulis atas nama cinta
yang kita berhalakan dalam puja
dalam renyai, gerimis, hujan pula
tak perduli dingin yang merana
aih, merpati jantan mengepakkan sayap
setianya, aral tuk tinggalkan betina
kuingin seperti dia, sayang
cintaku nun jauh di sana
kutulis ini bukan apa apa
bukan pula untuk sesiapa
untukku, untukmu, untuk kita
ah, dara itu membuatku cemburu
Kau kukenang
Bersamamu saat itu ke pantai menuju
Aku dan kamu belum menjadi kita
Tertemukan pada butir-butir pasir enggan menyatu
Yang memengap harap sampai malu untuk tegak
Memandang ke arahmu, ke wajahmu
Biarkan jariku setali serantai dengan jemarimu
Tentu di ruas-ruas jarimu jemariku akan menyatu
Lantas menari tarian yang aku dan kamu belum
Tahu itu gerangan gerakan apa
Biarkan ia dan dia menari sampai selesai
Musik lautan yang aku dan kamu juga tahu
Tabuhan ombak terus bergema selama-lama ada
Rasa antar dua: aku dan kamu
Tapi, tersipu kau kulihat saat itu !
La Ortav
Kairo, 070406
hihi, diralat...ternyata judulnya bukan Duhai.. :D
Kutulis cintaku padamu
kala kalut selimuti sukmaku
kubeberkan hatiku
arwah kata dalam gebu
kutulis ini padamu hanya
tidak untuknya, atau sesiapa
kala hujan menghunjam semesta
dalam ruang penuh jelaga
kasih, hanya padamu kuucap
meraung jiwaku, meratap
merindu, mengucap, mengecap
kurindumu seperti ini saat senyap
dua merpati bercumbu dalam renyai
di atas atap rumahku, selimuti
betina dalam sayap kehangatan
decakku, cinta butuh pengorbanan
ini kutulis atas nama cinta
yang kita berhalakan dalam puja
dalam renyai, gerimis, hujan pula
tak perduli dingin yang merana
aih, merpati jantan mengepakkan sayap
setianya, aral tuk tinggalkan betina
kuingin seperti dia, sayang
cintaku nun jauh di sana
kutulis ini bukan apa apa
bukan pula untuk sesiapa
untukku, untukmu, untuk kita
ah, dara itu membuatku cemburu
Kau kukenang
Bersamamu saat itu ke pantai menuju
Aku dan kamu belum menjadi kita
Tertemukan pada butir-butir pasir enggan menyatu
Yang memengap harap sampai malu untuk tegak
Memandang ke arahmu, ke wajahmu
Biarkan jariku setali serantai dengan jemarimu
Tentu di ruas-ruas jarimu jemariku akan menyatu
Lantas menari tarian yang aku dan kamu belum
Tahu itu gerangan gerakan apa
Biarkan ia dan dia menari sampai selesai
Musik lautan yang aku dan kamu juga tahu
Tabuhan ombak terus bergema selama-lama ada
Rasa antar dua: aku dan kamu
Tapi, tersipu kau kulihat saat itu !
La Ortav
Kairo, 070406
hihi, diralat...ternyata judulnya bukan Duhai.. :D
Kisah Tak Berujung...
suatu saat ada perahu yang terdampar di sebuah pulau
di saat terdampar dia kelihatan lelah , berjalan sepanjang pesisir pulau
dan mulai masuk kedalam pulau ...tahukah ?
sedikit pesona pulau ini menghampiri
jiwa nya ..ku lihat dia menghampiri sebuah telaga dan meminum air nya yang sangat jernih
ku hanya terdiam dan sebentar ku lihat dia memejamkan mata nya dan merebahkan tubuh nya
"apakah aku akan terdampar disini selamanya " ..dari bibir nya terucap saat matanya masih terkatup
ku bawakan setangkup buah buah an dan ku hampiri nya ... tubuh nya tersentak kaget melihat kedatangan ku ..
dia memasang mata yang terlihat waspada terhadap semua gerak ku
ku tinggalkan buahan itu " makan lah ini , kulihat kau sangat lapar " dan ku tinggalkan diri nya
"Gubuk ku ada di atas sana ..jika kau ingin singgah silahkan saja .."
By. Someone who cares bout me
(5 Jan '07, 19:34:55 WIB)
Maaf...:( Arum ga bisa nerusinnya.
May be ada temen2 yang bisa lanjutin ceritanya? Silahkan ketik aja di bagian comment.
Makasih :)
di saat terdampar dia kelihatan lelah , berjalan sepanjang pesisir pulau
dan mulai masuk kedalam pulau ...tahukah ?
sedikit pesona pulau ini menghampiri
jiwa nya ..ku lihat dia menghampiri sebuah telaga dan meminum air nya yang sangat jernih
ku hanya terdiam dan sebentar ku lihat dia memejamkan mata nya dan merebahkan tubuh nya
"apakah aku akan terdampar disini selamanya " ..dari bibir nya terucap saat matanya masih terkatup
ku bawakan setangkup buah buah an dan ku hampiri nya ... tubuh nya tersentak kaget melihat kedatangan ku ..
dia memasang mata yang terlihat waspada terhadap semua gerak ku
ku tinggalkan buahan itu " makan lah ini , kulihat kau sangat lapar " dan ku tinggalkan diri nya
"Gubuk ku ada di atas sana ..jika kau ingin singgah silahkan saja .."
By. Someone who cares bout me
(5 Jan '07, 19:34:55 WIB)
Maaf...:( Arum ga bisa nerusinnya.
May be ada temen2 yang bisa lanjutin ceritanya? Silahkan ketik aja di bagian comment.
Makasih :)